Dalampembuatan rumah adat Bali, Asta Kosala Kosali disebutkan juga merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci dalam rumah tradisional Bali, yang penataan bangunannya di dasarkan atas anatomi tubuh yang punya rumah. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang empunya rumah.
DalamAsta Kosala Kosali ini disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan-aturan anatomi tubuh pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang mempunyai wewenang membantu pembangunan rumah atau pura. Asta Kosala Kosali Fengshui Arsitektur Bali
AstaKosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti
Padadasarnya Asta Kosala Kosali adalah konsep tata ruang tradisional Bali berdasarkan konsep keseimbangan kosmologis (Tri Hita Karana), hierarki tata nilai (Tri Angga), orientasi kosmologis (Sanga Mandala), ruang terbuka (natah), proporsional dengan skala, kronologis dan prosesi pembangunan, kejujuran struktur, dan kejujuran pemakaian material.
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. 1. Sedang, banyak mempunyai Buruk, sering menemui Buruk, sering mendapat Baik, akan mendapat ilmu Buruk, sering mengalami Baik sekali, amat Baik, bisa menjadi Buruk, tidak disenangi oleh Buruk, sering sakit.
Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik dewasa membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya. Untuk melakukan pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti Musti ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas, Hasta ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka Depa ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan A Landasan Filosofis, Etis. dan Ritual Landasan filosofis. Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung. Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini. Unsur- unsur pembentuk. Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan pengider- ideran Dewata Nawasanga. Tri Hita Karana yaitu unsur Tuhan/ jiwa adalah Parhyangan/ Pemerajan. Unsur Pawongan adalah manusianya dan Palemahan adalah unsur alam/ tanah. Sedangkan Dewata Nawasanga Pangider- ideran adalah sembilan kekuatan Tuhan yaitu para Dewa yang menjaga semua penjuru mata angin demi keseimbangan alam semesta ini. Landasan Etis Tata Nilai. Tata nilai dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah teben hilir. Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga adalah Utama Angga, Madya Angga dan Kanista Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Kanista Mandala. Pembinaan hubungan dengan lingkungan. Dalam membina hubungan baik dengan lingkungan didasari ajaran Tat Twam Asi yang perwujudannya berbentuk Tri Kaya Parisudha Landasan Ritual Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin, memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin. B. Konsepsi perwujudan Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam 1. Keseimbangan alam 2. Rwa Bhineda, Hulu- teben, Purusa- Pradhana 3. Tri Angga dan Tri Mandala. 4. Harmonisasi dengan lingkungan. 5. Keseimbangan Alam Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta lingkungan yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana. 6. Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana. Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben hilir. Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya margi agung atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi. 7. Tri Angga dan Tri Mandala. Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian Tri Mandala yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama seperti tempat pemujaan. Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya tempat tinggal penghuni dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai kanista misalnya kandang. Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi 3 bagian Tri Angga yaitu Utama Angga adalah atap, Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur pondasi. 8. Harmonisasi dengan potensi lingkungan. Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu. C. Pemilihan Tanah Pekarangan. 1. Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar asah, pelemahan inang, pelemahan marubu lalahberbau pedas. 2. Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah karang karubuhan tumbak rurung/ jalan, karang sandang lawe pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan, karang sulanyapi karang yang dilingkari oleh lorong jalan karang buta kabanda karang yang diapit lorong/ jalan, karang teledu nginyah karang tumbak tukad, karang gerah karang di hulu Kahyangan, karang tenget, karang buta salah wetu, karang boros wong dua pintu masuk berdampingan sama tinggi, karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” busuk 3. Tanah- tanah yang tidak baik ala tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda. 4. Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun. Pekarangan Sempit. Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan alam bhuta. Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar. Rumah Bertingkat. Untuk rumah bertingkat bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas. Rumah Susun. Untuk rumah Susun tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan. D. Dewasa Membangun Rumah. Dewasa Ngeruwak Wewaran Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi. Sasih Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa. Nasarin Watek Watu. Wewaran Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi, Sasih Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem. Nguwangun Wewaran Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Mengatapi Wewaran Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Dewasa ala geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya. Memakuh/ Melaspas Wewaran Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Sasih Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa. E. Upacara Membangun Rumah. Upacara Nyapuh sawah dan tegal. Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal. Jenis upakara paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae. Setelah “Angrubah sawah” dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis. Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan. Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna. Upakara Nanem dasar pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti. Upakara Pemelaspas. Upakaranya jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng. Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara dan upakara tersebut di atas disesuaikan dengan kondisi setempat. Asta Kosala Kosali – Fengshui ala Bali Tanah dan tata letak rumah berpengruh terhadap kehidupan asta kosala kosali atau asta bumi bisa dijadikan bangunan arsitek bali yang bisa membuat penghuninya bisa nyaman dan bahagia. Menurut ida Pandita dukuh Samyaga,perkebangan arsitektur bangunan Bali,tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11,atau zaman pemerintahan Raja Anak wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali. Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14,juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur. Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh jauh dikemukakan,Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur,sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan kisah tersebut,hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur. Karenanya,tiap bangunan di bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan demikian di lakukan mulai dari pemilihan lokasi,membuat dasar bagunan sampai bangunan ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi kepercayaan masyarakat Hindu Bali,bangunan memiliki jiwa bhuana agung alam makrokosmos sedangkan manusia yang menepati bangunan adalah bagian dari buana alit mikrokosmos. Antara manusia mikrokosmos dan bangunan yang ditempati harus harmonis,agar bisa mendapatkan keseimbangan anatara kedua alam itu,mebuat bagunan harus sesuai dengan tatacara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Atas Kosala-kosali sebagai fengsui Hindu Bali. Tanah Membuat rumah yang dapt mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya,bagi rohaniwan dari Banjar Semaga,Desa Penatih,Denpasar ini harus diawali dengan pemilihan lokasi tanah yang yang bagus dijadikan bagunan adalah tanah yang posisinya lebih rendah miring ke timur sebelum direklamasi. Namun di luar lahan bukan milik kita,posisinya lebih juga tanah bagian utaranya juga harus lebih tanah di pinggir jalan,usahakan posisinya tanah dipeluk baik bila ada air di arah selatan tetapi bukan dari sungai yang mengalir harus berjalan pelan,tetapi posisi sungai juga harus memeluk tanah ,bukan sebaliknya menebas lokasi air yang lambat membuat Dewa air sebagai pembawa kesuburan dan rejeki banyak terserap dalam deras. Selain letak tanah,tekstur tanah juga harus dipastikan memiliki kualitas berwarna kemerahan dan tidak berbau termasuk jenis tanah yang bagus untuk tempat menguji tekstur tanah,cobalah genggam tanah setelah lepas dari genggaman tanah itu terurai lagi,berarti kualitas tanah tersebut cocok dipilih untuk lokasi lain untuk menguji tekstur tanah yang baik adalah dengan cara melubangi tanah tersebut sedalam 40 Cm lubang itu diurug ditimbun lagi dengan tanah galian tadi. Jika lubang penuh atau kalau bisa ada sisa oleh tanah urugan itu, berati tanah itu bagus untuk jika tanah untuk menutup lubang tidak bisa memenuhi jumlahnya kurang berati tanah tersebut tidak bagus dan tidak cocok untuk rumah karena tergolong tanah lebih baik memilih tanah yang terletak di utara jalan karena lebih mudah untuk melakukan penataan bangunan menurut konsep Asta membuat pintu masuk rumah,letak bangunan,dan tempat suci keluarga merajan/sanggah.Lokasi seperti ini memungkinkan untuk menangkap sinar baik untuk letak pintu masuk yang sesuai,akan memudahkan menangkap Dewa Air mendatangkan rejeki. Kurang Bagus Jangan membangun rumah di bekas tempat-tempat umum seperti bekas balai banjar balai masyarakat, bekas pura tempat suci, tanah bekas tempat upacara ngaben massalpengorong/peyadnyanbekas gria tempat tinggal pedande/pendeta dan tanah bekas pula untuk tidak memilih lokasi tanahbersudut tiga atau lebih dari bersudut di puncak ketinggian,di bawah tebing atau jalan juga kurang bagus untuk rumah karena membuat rejeki seret dan penghuninya akan sakit – juga tanah yang terletak di pertigaan atau di perempatan jalan simpang jalan tidak bagus untuk tempat tinggal tetapi cocok untuk tempat jenis ini termasuk tanah angker karena merupakan tempat hunian Sang Hyang Durga Maya dan Sang Hyang Indra Balaka. Tata Letak Bangunan Setelah direklamasi ditata diusahkan bangunan yang terletak di timur,lantainya lebih tinggi sebab munurut masyarakat bali selatan umumnya,bagian timur dianggap sebagai hulukepalayang menurut fungsui,posisi bangunan seperti itu memberi efek matahari tidak terlalu kencang,dan air tidak sampai ke bagian yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau diletakan di arah barat barat daya dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu tempat suci atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, karena menurut konsep lontar Asta Bumi,tempat ini sebagai letak Dewa Api. Sumur dan lumbung tempat penyimpanan padi sedapat mungkin diletakan di sebelah timur atau utara di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air. Bangunan balai Bandung tempat tidur diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan diselatan balai penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat. Pintu Masuk Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rejeki ukuran pintu masuk juga harus diatur. Jika membuat pintu masuk lebih dari satu,lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh tinggi lantainya juga tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama dibali berbentuk gapura/angkul – angkul harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju dibuat sama akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sangat bagus bila di sebelah kiri sebelah timur jika rumah mengadap selatan diatur jambangan air pot air yang disi ikan. Ini sebagai pengundang Dewa Bumi untuk memberi kesuburan seisi menempatkan benda – benda runcing dan tajam yang mengarah ke pintu masuk rumah seperti penempatan meriam kuno,tiang bendera,listrik dan tiang telepon atau tataman yang berbatang tinggi seperti pohon palm,karena membuat penghuninya sakit sakitan akibat dan tempat pembungan kotoran sedapat mungkin di buat di posisi hilir dan lebih rendah dari pintu menempatkan kolam di pekarangan rumah hendaknya dibuat di atas permukaan tanahbukan lobang.Kolam di buat di sebelah kanan pintu masuk dengan posisi memelu rumah,bukan keberadaan kolam yang tidak sesuai akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah. umahbali
Arsitektur rumah tradisional Bali menarik perhatian dunia, karena nilai estetikanya sangat kuat dan menonjol, akrab dengan alam lingkungan, unit-unit yang multifungsi, landasan filosofi sakral dan profan yang masih dipertahankan dalam membagi unit bangunan. Pendek kata, buku ini memberi informasi ihwal arsitektur rumah Bali dari konsep, nilai filosofi, cara memilih karang lahan hunian, cara memilih materi, struktur bangunan, seperti bale daja, bale dangin, bale dauh, paon dapur, jineng, angkul-angkul dan ragam hias dan ornamen yang digunakan. Sudah banyak arsitek yang mengadopsi arsitektur rumah tradisional Bali baik sebagian maupun keseluruhan. Untuk memudahkan adopsi tersebut, dalam buku ini deskripsi dilengkapi dengan foto-foto, sket, gambar dan diagram. Buku ini layak dikoleksi sebelum anda kehilangan kesempatan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Arsitektur Rumah Tradisional Bali i Arsitektur Rumah Tradisional BaliBerdasarkan Asta Kosala-kosali ii Arsitektur Rumah Tradisional BaliSanksi Pelanggaran Pasal 44Undang-Undang Nomor 12 tahun 1997 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 19871. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tujuh tahun dan/atau denda paling banyak Rp. Seratus Juta Rupiah.2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. Lima Puluh Juta Rupiah. Arsitektur Rumah Tradisional Bali iii Ngakan Ketut Acwin DwijendraArsitektur Rumah Tradisional BaliUdayana University PressCV. Bali Media Adhikarsa KerjasamaBerdasarkan Asta Kosala-kosali iv Arsitektur Rumah Tradisional BaliArsitektur Rumah Tradisional BaliPenulis Ngakan Ketut Acwin Dwij endraEditor Jiwa AtmajaPenyelaras Andika SaputraIlustrasi Dari berbagai sumberDiterbitkan olehUdayana University PressLantai Dasar Gedung Pascasarjana Unud Sudirman, Denpasar - BaliTelp. 081 337 491 413Kerjasama denganCV. Bali Media AdhikarsaJl. Badak Agung No. 22, Kav. 5 Renon, Denpasar - BaliTelp./Fax. 0361 224890Cetakan PertamaOktober 2008xv + 232 hlm, 14 x 21 cmISBN 978-979-8286-69-8Hak Cipta pada Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Asta Kosala-kosali Arsitektur Rumah Tradisional Bali v Dedikasi kepada Istriku tercinta, Desak Made Suastri, SEPutriku yang manis, Desak Ayu Krystina Winastri yang lucu, Dewa Ngakan Made Bagus Krishna K. Serta rasa hormatku yang mendalam kepada keluarga besar di Bangli dan UbudAtas dukungan, kesabaran, cinta serta pengorbanan mereka, dalam membantu terselesainya buku ini. “Kegagalan terbesar adalah ketika kita tidak pernah mencoba”Robyn Allan“Menjadi yang terbaik lebih penting daripada menjadi yang pertama”Bill Gates“Kebahagian sejati berasal dari hati. Jika hati merasa bahagia, bahkan sebuah penjara pun dapat menjadi sebuah istana”J. P. Vaswani“Cara terbaik meramalkan masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri”Peter F. Drucker vi Arsitektur Rumah Tradisional Bali Arsitektur Rumah Tradisional Bali vii Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa berkat kuasa dan rahmat-Nya maka buku yang berjudul Arsitektur Rumah Tradisional Bali ini dapat diselesaikan tepat pada ini, mengajak pembaca mengenal bagaimana arsitektur rumah tradisional Bali, mulai dari pemaparan konsepsi dan fi losofi , memilih karang yang baik, membuat angkul-angkul dan telajakan, natah, lumbung, bale dangin, bale dauh, bale daja, dan ragam hias yang terdapat pada rumah mencoba menyajikan seputar arsitektur rumah tradisional Bali dengan bahasa yang lugas dan komunikatif dengan harapan pembaca dapat dengan mudah penulisan buku ini, penulis banyak menerima bantuan baik berupa data-data, saran, dukungan dan semangat. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada • Bapak Prof. Ir. I Wayan Redana, MASc. PhD, Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana atas pengantar dan dorongan semangat yang Pengantar viii Arsitektur Rumah Tradisional Bali• Ibu Ir. Ni Ketut Ayu Siwalatri, MT, Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana atas dorongan semangat yang diberikan.• Bapak Prof. Ir. D. K. Harya Putra, atas bantuannya telah menyunting buku ini serta dorongan semangat yang diberikan.• Mahasiswa Jurusan Komputer Arsitektural Newmedia Wiswakarma’s Crew yaitu Adi Purbanegara, Agus Pranatha Jaya, Agus Punarbawa, Andika Saputra, Armaya, Camelia Silviana, Edi Saputra, Farhanah, Galung, Inas Fuad, Juliastika, Purna Bawa, Sudarsana, Supartayasa, Surya Dinata, Surya Martana, Swasti hari, Winarta dan Wita Febriana, atas data-data, foto-foto serta dorongan semangat yang diberikan.• Bapak dan Ibu, Dewa Ngakan Gede Keramas dan Desak Made Arnawi atas dorongan moral dan cinta yang diberikan.• Bapak dan ibu mertua, Dewa Made Oka dan Desak Nyoman Kasih atas dorongan semangat yang diberikan.• Kakak-kakak, Desak Ayu Raka Marhaeni, Desak Rai Adnyani, Ngakan Nyoman Acwin Sadhaka dan adik, Desak Ayu Anom Diana Sukreni atas semangat yang diberikan.• Istriku tercinta, Desak Made Suastri dan anak-anakku tersayang, Desak Ayu Krystina Winastri dan Dewa Ngakan Made Bagus Krishna, atas kesabaran dan dukungan moral yang kata, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pembaca dan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku Pebruari 2008Ngakan Ketut Acwin Dwij endra Arsitektur Rumah Tradisional Bali ix Puji syukur ke hadapan Tuhan Yang maha Esa, atas rahmatNya sehingga buku Arsitektur Rumah Tradisional Bali dapat diterbitkan. Arsitektur rumah tradisional Bali merupakan topik yang tidak akan habis untuk dibahas, karena selalu bersifat terbuka untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan jaman. Walaupun demikian, konsep dasar dan fi losofi tentang arsitektur tradisional Bali tetap tidak akan berubah karena tetap dij aga oleh Arsitektur Tradisional Bali ini banyak membahas tentang arsitektur Bali mulai dari pemilihan pekarangan, natah, parahyangan, bale meten, lumbung sampai ornamen yang perlu dipasang pada bangunan Bali. Sambungan kayu, ukuran sampai kepada nama masing-masing bagian dij elaskan secara detail untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman bagi para undagi. Arsitektur rumah tradisional memang sangat kompleks dan harus direncanakan mampu memenuhi kebutuhan kegiatan sehari-hari pemiliknya. Perlu menjadi perenungan bahwa perancangan ruang dan Sambutan Dekan FT. Unud x Arsitektur Rumah Tradisional Balitata letak sedapatnya memenuhi kebutuhan untuk kegiatan keagamaan, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan kegiatan yang mendukung pekerjaan yang kesehariannya kadang sulit dipisahkan satu sama lainnya. Rumah arsitektur tradisional Bali juga memerlukan lahan yang cukup luas, kalau mengikuti tata ukuran arsitektur tradisional Bali. Sedangkan, masyarakat sering dihadapkan pada keterbatasan dalam membangun rumah hunian. Untuk itu diperlukan pemikiran cerdas untuk pengembangan tanpa menghilangkan konsep dasar dan fi losofi arsitektur tradisional Bali tersebut. Pemenuhan kebutuhan keseharian ini akan memberikan rasa nyaman dan aman untuk mencapai kesuburan, kebahagiaan, dan kemuliaan hidup bagi yang setingi-tingginya disampaikan kepada penulis, Ngakan Ketut Achwin Dwij endra, ST, MA yang juga mengemban tugas sebagai Pembantu Dekan bidang Akademik Fakultas Teknik Universitas Udayana, atas sumbangannya kepada Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana dan pada perkembangan Arsitektur Bali pada khususnya. Kiranya, buku ini akan melengkapi buku tentang arsitektur tradisional Bali yang sudah ada, dan sangat dianjurkan untuk menjadi pegangan bagi birokrasi, praktisi, undagi rumah adat tradisional Bali, dosen, mahasiswa dan masyarakat Pebruari 2008Prof. Ir . I Wayan Redana, MASc, PhDDekan Fakultas Teknik Universitas Udayana Arsitektur Rumah Tradisional Bali xi Menulis buku dan publikasi ilmiah merupakan kegiatan yang sangat penting untuk menunjang kompetensi pengajar seorang dosen, namun sampai saat ini dosen yang menerbitkan buku dan melakukan publikasi ilmiah di kalangan universitas masih sangat sedikit. Universitas Udayana khususnya Jurusan Arsitektur sebagai institusi pendidikan wajib mendorong civitasnya untuk meningkatkan kegiatan penelitian, penulisan dan publikasi untuk dapat menjadi salah satu sumber informasi pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu Tradisional Bali merupakan arsitekur yang berlandaskan pada ajaran Agama Hindu yang memang sedang berkembang pada jamannya, dan sekarang merupakan warisan dari para generasi sebelumnya. Sampai saat ini yang dapat memahami istilah yang tertuang dalam lontar tentang kearsitekturan hanya pada kalangan terbatas, dan jumlah itu semakin menipis dengan meninggalnya para undagi yang memahami Arsitektur Tradisional Bali. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah untuk tetap mendokumentasikan dan Sambutan Ketua Jurusan Arsitektur FT. Unud xii Arsitektur Rumah Tradisional Balimengeksprolasi warisan leluhur sehingga dapat menjadi warisan yang berharga bagi generasi selanjutnya Rumah tinggal tradisional Bali merupakan salah satu bentuk arsitektur yang masih banyak digunakan dalam kehidupan masyarakat Bali. Rumah tinggal tradisional Bali memiliki aturan, prinsip dan konsep yang berbeda dengan rumah tinggal saat ini. Keinginan masyarakat untuk tetap menggunakan warisan nenek moyang terbentur pada istilah yang sulit dipahami. Istilah dalam arsitektur Bali yang kebanyakan masih dalam Bahasa Bali atau Bali Kuno memang membutuhkan penjabaran yang lebih mendalam dan diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur masa kini yang mudah dimengerti oleh masyarakat banyak. Oleh karena itu prinsip dan pedomaan pembangunan rumah Tradisional Bali memang banyak dibutuhkan oleh masyarakat Bali yang ingin tetap menggunakan warisan leluhurnya sebagai salah satu sumber kerasitekturannya. Dengan diterbitkannya buku Arstektur Rumah Tradisonal Bali diharapkan istilah, pedoman, dan prinsip perancangan dan pembangunan rumah tinggal tradisional Bali dapat lebih dipahami masyarakat luas sehingga dapat menjadi tuntunan bagi penggunanya. Tulisan ini mungkin bukan karya yang sempurna, tetapi merupakan salah satu sumbangan yang berharga bagi perkembangan kearsitekturan di Bali dan di Nusantara. Semoga tulisan ini menjadi pemicu bagi penulis lain untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi yang kita miliki dan menjadikan harta yang tak ternilai ini yang dapat diwariskan bagi generasi selanjutnyaDenpasar, Pebruari 2008Ir. Ni Ketut Ayu Siwalatri, MTKetua Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Udayana Arsitektur Rumah Tradisional Bali xiii Daftar IsiKata Pengantar ~ vii Sambutan Dekan Ft Unud ~ ixSambutan Ketua Jurusan Arsitektur FT. Unud ~ xi Da ar Isi ~ xiiiBAB I. PENDAHULUAN ~ 1 Tri Hita Karana ~ 2 Tri Angga dan Tri Loka ~ 4 Orientasi-Orientasi ~ 6 Sanga Mandala ~ 7 Perumahan Tradisional Bali ~ 19 Tipologi Bangunan Tradisional ~ 31BAB II. PEMILIHAN KARANG ~ 41 Prosesi Pembangunan ~ 42 Penentuan Bahan Bangunan ~ 42 Arah Muka Rumah ~ 43 Pekarangan yang Baik ~ 44 xiv Arsitektur Rumah Tradisional Bali Pekarangan yang Tidak Baik ~ 46 Cacat Karang ~ 50 Rumah Menyimpan Kemalangan ~ 64BAB III. ANGKUL-ANGKUL DAN TELAJAKAN ~ 71 Angkul-angkul ~ 72 Telajakan ~ 82BAB IV. NATAH ~ 89 Makna dan Filosofi ~ 90 Fungsi ~ 91 Orientasi dan Tata Letak ~ 93 Dimensi ~ 96BAB V. LUMBUNG BALI ~ 99 Jenis Lumbung Bali ~ 99 Fungsi ~ 102 Struktur dan Konstruksi ~ 111 Dimensi ~ 121 Bahan ~ 122 Tata Letak ~ 123BAB VI. BALE DANGIN ~ 127 Fungsi ~ 128 Bahan ~ 128 Struktur dan Konstruksi ~ 129BAB VII. BALE DAJA ~ 135 Fungsi ~ 136 Tipologi ~ 136 Struktur dan Konstruksi ~ 139 Perkembangan ~ 146 Arsitektur Rumah Tradisional Bali xv BAB VIII. BALE DAUH ~ 155 Makna dan Filosofi ~ 156 Bahan ~ 158 Struktur dan Konstruksi ~ 159BAB IX RAGAM HIAS ~ 165 Pepatran ~ 166 Kekarangan ~ 184 Alam ~ 205 Agama dan Kepercayaan ~ 213 Ragam Hias Lainnya ~ 222DAFTAR PUSTAKA ~ 229RIWAYAT PENULIS ~ 231 ... Salah satu kekayaan tersebut adalah arsitektur rumah tradisional Bali. Namun seiring perkembangan zaman dan perkembangan arsitektur di Bali, banyak yang mulai meninggalkan konsep rumah tradisional Bali karena keterbatasan lahan dan ekonomi Dwijendra, 2008. Salah satu konsep rumah tradisional bali adalah konsep natah. ...... Natah dalam konteks Tri Hita Karana merupakan ruang wadah dalam menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan Wijaya, 2018. Natah merupakan lahan kosong bukan bangunan namun sarat dengan makna, disamping secara fisik bersifat multiguna Dwijendra, 2008. Natah memiliki makna mendasar sebagai ruang terbuka atau ruang kosong vertikal yang luas yang menghubungkan Purusa dan Pradana, pertemuan antara langit dan pertiwi/tanah Gomudha, 1999. ...... Menurut Dwijendra 2008,fungsi natah dapat dibedakan menjadi fungsi sosial dan fungsi ekologis. Fungsi sosial dari natah terdiri dari fungsi spiritual yaitu kepercayaan ajaran agama yang bersifat abstrak, fungsi budaya dalam hubungannya dengan aktivitas upacara keagamaan, fungsi ekonomi yaitu tempat untuk menjemur hasil bumi dan menanam tanaman yang nantinya dapat menghidupi anggota keluarga dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup penghuni rumah, serta fungsi komunikatif sebagai tempat bermain, berolahraga, dan menerima tamu sementara. ...Bali is known for its arts, culture, traditions and strong values. The design of "Contemporary Art Center in Gianyar" comes to respond to the development of contemporary art in Bali by becoming a space for artists and the public to engage in the scope of contemporary art. However, not in line with the development of the art, at this time people began to leave the culture and values that exist in Bali. Therefore, as one of the contributions to preserve the culture and values of Bali, one of the traditional Balinese architectural concepts called "Natah" is used in this design. The method used is a qualitative research method with a descriptive approach and glassbox design method with several stages. In this design, the concept of "natah" function as a multifunctional space for various activities such as exhibitions of works, shows, contemplations , socio-cultural activities, etc., as a binder between building masses with different functions, and aslo as a philosophical value for preserving the concept traditional Balinese architecture.... Tipologi angkul-angkul dibagi berdasarkan beberapa hal antara lain Dwijendra, 2008, Wijaya, 2017, Saraswati, 2001 ...... Pada tipe permukiman rakyat, pola tata ruang angkul-angkul Dwijendra, 2008 adalah 1 dengan ruang terbuka lebuh pada halaman di depannya; 2 memiliki lebuh yang dibentuk oleh telajakan dan dinding terbuka cangkem kodok; dan 3 terdapat areal dengan ruang enclosure di hadapan angkul-angkul disebut jaba sisi. ...p> Gate buildings in traditional Balinese settlements known as angkul-angkul, that classified as sacred building with profane and sacred functions. Angkul-angkul are built with traditional architectural principles that concerning its form and proportion. The study was carried out in settlements area in Desa Gunaksa, Klungkung, as the oldest empire in Bali. This research was conducted using a mixed-method with a descriptive-comparative analysis technique. Found 6 six authentic angkul-angkul that are 60-75 years old, that are used as case study to analyze its form and proportion characteristic. Proportion comparison ratio of angkul-angkul’s length height width foot width body width roof height and door opening width is 1 2 0,5 The study found that proportion comparison of its height and width ratio is 2 1, concluded that angkul-angkul in Gunaksa are implement ancient cecandian form with Paushtika proportion based on the Manasara-Silpasastra. The increase influences changes in the spatial layout of Balinese ethnic residences in Denpasar in the number of family members, the growth in the community's economy, and the availability of residential yard land, which is decreasing. On the one hand, the Balinese ethnic community in Denpasar still has a perception of direction and orientation of significant high and obnoxious low values or luan and teben orientations as the forerunner to the spatial configuration of Balinese ethnic residences with the concept of zoning of the Sanga Mandala tread. This study aims to conceive of the Denpasar community's perception of the arrangement of residential houses amid increasing residential space needs. The method used is descriptive qualitative through empirical studies by conducting in-depth observations and interviews to understand the Denpasar community's understanding of structuring their homes. This study found that the Balinese ethnic community perceives changes in their homes' spatial layout based on literacy and adaptation; the Denpasar community understands the demands of residential space needs through a spatial transformation based on transformation spatial concepts of Balinese architecture. asta kosala kosali pintu rumah